PKL Part 4 (17-28 Juli 2017)

Part Sebelumnya

Part 1 – PKL Begins

Part 2 – PDI

Part 3 – Sekretariat?


 

[Senin, 17 Juli 2017]

Hari pertama anak sekolahan kembali belajar di kelas, sekaligus menjadi hari pertama saya menjadi ‘teteh sekre’ full day.

Udah disebutin di part sebelumnya bahwa Teh Ririn yang biasa ngurusin surat keluar nggak masuk ke kantor karena diklat, dan saya lah yang disuruh gantiin beliau.

Namun di hari pertama ini, saya nggak ngurusin surat keluar. Saya malah diajarin buat ngurusin Surat Masuk lagi sama Teh Karin, dan urusan surat keluar di-take-over oleh teteh berhijab tersebut.

Jadi, surat yang masuk ke pos KPP bukan cuma surat yang berisi pembuka-isi-penutup yang biasa dipelajarin di matkul Bahasa Indonesia aja, namun SPT Masa dan Tahunan juga. SPT Masa dan Tahunan juga perlu didata di excel, tapi nggak perlu diinput ke SIDJP dan Masuper.

 

dsc_0002-3

SIDJP

 

dsc_0005-3

Masuper

 

Sehingga, jobdesc saya di hari pertama adalah:

  1. Mendata SPT Masa yang masuk
  2. Mendata SPT Tahunan yang masuk
  3. Mendata surat umum yang masuk
  4. Mencetak lembar disposisi
  5. Menyortir dokumen, surat, dan lembar disposisi yang akan didistribusikan
  6. Mencetak tanda terima penyerahan Surat Masuk
  7. Mengedarkan dokumen, surat, dan disposisinya ke seluruh seksi
  8. Udah deh.

Selain ilmu tambahan seputar per-surat-masuk-an, saya juga dapet beberapa ilmu lainnya pada hari itu.

Pertama, ilmu fotokopi. Sebenernya ilmu fotokopi udah saya dapetin pas di seksi PDI (Pengolahan Data dan Informasi), namun berhubung mesin fotokopi di sekre beda sama mesin fotokopi di seksi umum, jadi tombol-tombol yang harus dipencet-pencet harus dipelajari lagi. Tapi overall mirip-mirip sih jadi saya tidak menemui kendala yang berarti. Ihiy.

Kedua, ilmu scanning dokumen. Mesin yang dipake buat fotokopi ternyata bisa dipake buat nge-scan. Woooow canggih!!! Terus, dokumen yang udah discan bisa di-rename langsung di mesin tersebut dan langsung ke-save otomatis di komputer. Sekali lagi, woooow canggih!!!!!

Ketiga, ilmu perteleponan. Selama ini saya mikir kalau telepon cuma bisa dipakai buat bercakap-cakap dengan orang yang nun jauh di mato. Ternyata nggak juga. Saya baru tahu kalau telepon bisa digunakan sebagai perangkat buat memberi pengumuman. Jadi, setiap pagi di KPP ini suka ada pengumuman pegawai-pegawai yang harus standby di Helpdesk pelayanan. Saya pikir selama ini pengumuman tersebut diumumin lewat microphone dan diperdengarkan melalui speaker di setiap ruangan. Taunya lewat telepon. Nggak tau deh gimana caranya suara dari telepon sekre bisa tersalur dengan lantang ke telepon di ruangan-ruangan seantero KPP ini.

Selain buat pengumuman, ilmu perteleponan yang saya dapatkan adalah nomor ekstensi. Banyak telepon dari WP yang masuk ke telepon sekre. Setelah mengangkat telepon dan mendengar permasalahan WP, sekre langsung menyambungkan ke seksi-seksi terkait melalui ekstensi nomer telepon. Misal, saya pernah nerima telepon WP yang nanya tentang sertifikat digital. Langsung aja saya sambungkan ke Waskon I. Tinggal pencet tombol ‘transfer’ lalu pencet nomor 119, telepon dari WP tersebut pun langsung terhubung dengan telepon di ruangan Waskon I. Kelar deh.

 

dsc_0001-2

Telepon

 

dsc_0002-7

Nomor Ekstensi

Keempat, ilmu per-messenger-an. Selama PKL saya selalu ngira kalau ngirim file antarpegawai harus lewat email. Ternyata lewat aplikasi messenger bernama Popup. Jadi aplikasi ini kayak aplikasi messenger pada umumnya, tapi cuma berlaku lokal di kantor tersebut dan cuma biasa diakses via komputer. Tiap komputer ada user id-nya masing-masing. Misal, komputer sekre yang paling ujung kanan nama usernya ‘sekretariat: ririn’, komputer sekre yang paling ujung kiri nama usernya ‘sekretariat: karin’. Jadi, misal kalau mau ngirim file dari komputer paling kanan sekre ke komputer paling kiri sekre, komputer paling kanan tinggal cari username ‘sekretariat: karin’ di Popup, attach filenya, klik send, dan voila, file pun terkirim. Walau pada hari itu misal yang pake komputer paling kiri bukan Teh Karin, tetep aja nama user popup tersebut ‘sekretariat:karin’. Jadi one computer one ID. Ngerti kan yaaa???? Ya pokoknya gitu lah ya pusing jelasinnya:(

Popup ini ada kegunaan lainnya juga, yakni buat mengetahui kehadiran pegawai di mejanya. Pernah sebelum mengedarkan Surat Masuk, saya liat Popup dulu. Pas diliat, username salah seorang pegawai belum muncul di list User, yang artinya komputer yang biasa digunakan pegawai tersebut belum hidup. “Wah ke mana nih jam segini Mas xxx belum ada di mejanya??” tanya saya dalam hati. Lanjut aja saya nganterin Surat Masuk ke beberapa ruangan, termasuk ruangan Mas xxx tadi. Pas diliat ke mejanya, ternyata masnya belum ada. Tau dah kemana. Ya udah saya pun balik kanan grak ke ruangan sekre lagi.

Di ruangan sekre, saya melakukan hal-hal yang lain sambil nunggu mas yang tadi, kali aja pas saya ke ruangannya tadi doi lagi makan ke luar. Nggak lama kemudian, saya buka Popup lagi. Eeeehhh, nama Mas xxx udah ada di list User, berarti doi udah nyalain komputernya. Langsung aja saya balik lagi ke ruangannya sambil bawa Surat Masuk yang tadi nggak jadi dianter. Pas nyampe ruangannya, saya liat mejanya. Ternyata doi udah nangkring di mejanya sambil ngaso-ngaso ganteng. Sejak itulah saya baru nyadar, ternyata itulah kegunaan sampingan dari aplikasi bernama Popup tersebut: mengetahui keberadaan pegawai.

Selama saya di PDI, saya nggak pernah kerja pake teknologi. Baru tau hal-hal begituan di sekre. Jadi begitu ditempatkan di sekre, langsung jadi kampungan. So sad.

 

[Selasa, 18 Juli 2017]

Hari kedua, saya masih menginput surat dan SPT masuk. Serta sesekali nge-scan dokumen. Sampai pukul 10.30, datanglah telepon dari ruang PDI. Telepon tersebut diangkat oleh Teh Fitri.

“Ken, kamu disuruh ke ruang PDI sebentar.”

Horeee mendata berkas lagi, pikir saya.

Sesampainya di ruang PDI, saya menghampiri Chris. Kenapa kok tiba-tiba saya dipanggil??

“Bu Ani ngajak makan baso, Ken. Semua anak PDI diajakin.”

Ya ampun, saya masih dianggap anak PKL di PDI. Terharu. Terima kasih Bu Ani 🙂

Pukul sebelas siang, saya, anak-anak PKL di PDI termasuk PKL dari SMK dan univ lain, Bu Ani, Alfi, dan satu ibu dari seksi lain yang saya nggak tau namanya langsung bergegas ke tempat bakso. Bakso yang merupakan pindahan dari belakang BIP itu lokasinya nggak jauh-jauh amat dari kantor, paling cuma 10 menit jalan kaki. Sampai di sana, Bu Ani langsung memesan delapan porsi bakso campur, sedangkan sisanya langsung mencari tempat duduk.

Lengkap banget baksonya, mulai dari bakso kecil, mie, bihun, toge, sampai tahu berenang-renang di mangkok kami. Lumayan enak pula. Apalagi gratisan beuh makin kerasa enaknya. Worth it lah sekali-kali buat mampir ke sana.

dsc_0003-3

Udah abis

 

Delapan porsi bakso lenyap dari pandangan, saatnya kembali ke kantor untuk istirahat dan solat dzuhur.

Habis istirahat, kegiatan nggak jauh-jauh dari kegiatan hari pertama. Jadi nggak usah diceritain lah ya.

 

[Rabu dan Kamis, 19-20 Juli 2017]

Hari ketiga, saya mulai ngurusin surat keluar. Kurang lebih begini alurnya.

  1. Perwakilan seksi lain dateng ke sekre buat minta tanda tangan Pak Kakap dan nomor surat. Dokumen ditaruh di tempat yang sudah disiapkan. Mereka kembali ke ruangan masing-masing.
  2. Teteh-teteh sekre memasukkan dokumen yang akan dimintai tanda-tangan tersebut ke ruangan Pak Kakap.
  3. Kalau dokumen sudah ditandatangani, Pak Kakap akan mengeluakan dokumen tersebut dari ruangannya dan menaruhnya ke tempat yang diperuntukkan.
  4. Teteh sekre memilah dokumen mana yang perlu diberi nomor surat mana yang tidak perlu. Dokumen berformat S (surat) dan SP (surat pengantar) yang perlu diberi nomor kemudian didata di excel, dan diberi nomor di lembar suratnya.
  5. Dokumen yang sudah dinomori kemudian discan.
  6. Setelah hasil scan muncul di folder komputer, dokumen tersebut dicap.
  7. Setelah dicap, dokumen tersebut diklasifikasikan berdasarkan seksi asalnya.
  8. Kemudian didata di buku ekspedisi. Nomor surat, peruntukkan, tanggal, ditulis di buku tersebut.
  9. Udah deh, sama Teh Fitri dokumen siap diekspedisikan kembali ke seksi-seksi yang tadi naruh dokumen di sekre. Yaay.

Terlihat ribet yah. Namun percayalah kalau liat sendiri prosesnya mah sedikit-sedikit bakal paham garis besar alurnya.

Namun, tiada hari tanpa ikut ngurusin Surat Masuk. Penyebabnya kemudian diketahui karena minggu depan Teh Karin bakal diklat seminggu. Ya, another week in sekretariat. Jadi minggu depan saya yang ngurus Surat Masuk. Gapapa sih sebenernya. Ngurus Surat Masuk berarti nyebarin Surat Masuk dan disposisinya. Nyebarin Surat Masuk berarti jalan-jalan ke seksi-seksi lain. Jalan-jalan ke  seksi lain berarti bisa mencari potensi pegawai di semua seksi. Yaaaayyyyy!!!!!

 

[Jumat, 21 Juli 2017]

Hari kelima, saya masih melakukan tugas combo, yakni memberi nomor surat plus menscannya, dan sesekali mendata Surat Masuk dan SPT.

Saat pagi hari saya lebih condong ke pekerjaan surat keluar, namun pada hari itu surat yang harus diberi nomor hanya ada sedikit, jadi banyak gabutnya.

Sampai tibalah sekitar pukul 10.00,Teh Karin meminta saya duduk di kursinya, karena Teh Karin mau pake komputer Teh Ririn dulu sebentar. Saya pun nurut, lalu akhirnya belajar TKD di meja Teh Karin. Hashtag #ambis.

Pas mau jam istirahat, Teh Fitri ngomong,

“Ken, kamu ditinggal sama aku dan Karin bentar gapapa?? Jadi pas istirahat kamu stay di sini ya jagain sekre. Gapapa kaan??”

Apalah daya hamba sebagai anak PKL. Yakali nolak?? Bisa hancur lah pencitraan saya sebagai anak PKL baik hati, penurut, dan tidak neko-neko itu.

“Iya Teeh, gapapa da…” Jawab saya sambil diiringi dengan senyuman manis.

“Kamu kalo mau internetan, bisa tuuh di komputernya Teh Ririn”, Ujar Teh Karin.

“Iya Teh, siapp”, Jawab saya masih dengan senyuman manis saya.

Tak lama kemudian, Teh Fitri dan Teh Karin pergi meninggalkan kantor. Katanya sih mereka mau makan-makan di luar, buat acara perpisahan Bu Hesti dan Aa Wildan, pegawai subbag umum. Berhubung tempat makannya jauh dan biar nyampe sana sebelum jumatan, jadi jam sebelasan Teh Fitri, Teh Karin dan pegawai-pegawai subbag umum udah caw ke tempat makan.

Meninggalkan saya sendiri di sekre….

Dengan internet di komputer Teh Ririn!!

Ya ampun kenapa baru tau komputer Teh Ririn bisa internetan pas hari terakhir bisa duduk di kursi Teh Ririn???!!!! Empat hari kemarin ke mana aja???? Aduh kan lumayan bisa irit kuota:(

Langsung aja saya kalap. Buka youtube, download TV series, browsing berita, buka spotify, dan lain sebagainya, yang kalo dibuka lewat hape bisa langsung bikin kuota 5 giga ludes dalam seketika.

Kalau ada internet cepet dan gratis kayak gini mah, tiap hari jaga sekre sendiri juga gapapa dah hahahaha.

Di tengah euforia dapet koneksi gratis, tiba-tiba pas jam setengah 1-an datang seorang Aa-Aa tinggi berkacamata ke ruangan sekre. “Lah ngapain si Aa ini ke sini??” bisik saya dalam hati sambil masih browsing-browsing berita.

Pas saya lagi baca berita tentang Alm. Chester Bennington, tiba-tiba si Aa nimbrung,

“Narkoba yah??” Celetuk si Aa.

“Nggak A, bunuh diri”, Jawab saya sekenanya.

“Iyaa, bunuh diri gara-gara narkoba kan?”

“Gatau atuh A hehe ini lagi mau baca beritanya.”

Habis baca berita tentang vokalis Linkin Park tersebut, saya iseng buka trailer Dunkirk, yang pada hari itu tayang premier di Indonesia. Eh si Aa-nya nimbrung lagi.

“itu tentang perang dunia II kan??

“Wah gatau A hehe makanya ini liat trailernya”

“Premiernya kapan sih?”

“Sekarang A, tanggal 21”

“Oooooohhhh sekarang??”

“Iyah”

“Coba buka website CGV dongg, terus cari di BEC udah tayang atau belum”

“Siapp”

“….”

“Nih ada A, jam 14.00 sama 18.15”

“Sipp nuhun”

Yah kirain nanya-nanya tuh mau nraktir nonton. Taunya cuma nanya doang:(

#ya #maklum #mahasiswa #maunya #gratisan #mulu #hehe

dsc_0006

BEC (bangunan yang kotak-kotak itu) yang literally sebelah kantor

Habis browsing, surat-surat dari pos pun datang. Artinya, pekerjaan mendata Surat Masuk dan SPT sudah di depan mata.

Udah aja saya ngerjain hal-hal per-surat-masuk-an, mulai dari ngecap tanggal terima di amplop-amplop suratnya, buka-bukain amplopnya, nyortir mana yang termasuk surat umum mana yang termasuk SPT, input ke microsoft excel + SIDJP +Masuper, terus terakhir cetak lembar disposisinya dan lembar tanda terimanya, as usual.

Si Aa yang kemudian diketahui bernama Aa Rizal ini masih setia menemani saya di sekre, sambil sesekali baca-baca buku TKD (Tes Kompetensi Dasar) punya saya. Di saat anak STAN yang mau TKD sebulan lagi aja rasanya muales buanget buat nyentuh itu buku, lah si Aa yang udah kerja ini malah excited buat baca-bacain materi TKD. Luar biasa. Bin salabin jadi apa, prok prok prok.

Tapi untung Aa Rizal nemenin, soalnya kalo nggak ada beliau, bakalan bingung saya ngangkat telepon dari WP, masukin surat ke ruang Pak Kakap, dan hal-hal persekretariatan lain yang kalo dipegang sama anak PKL sendiri, bakal ancur lah itu KPP.

Setelah dua jam lebih ditemenin Aa Rizal, rombongan pegawai subbag umum beserta Teh Fitri dan Teh Karin balik ke kantor, dan Aa Rizal pun balik ke ruangannya kembali.

“Keeeen, sekre aman kan??”, Tanya Teh Karin.

“Aman Teh, hehe. Untung tadi beberapa hal dibantuin A Rizal”, Jawab saya.

“Ah alhamdulillah. Pak Kakap tadi nanyain nggak?”, Tanya Teh Karin dengan sedikit cemas.

“Cuma nanyain Teh Karin sama Teh Fitri ke mana. Udah itu aja da Teh”, Jawab saya dengan tenang.

“Oooohhh alhamdulillah kalo gitu”, Ujar Teh Karin lega.

Teh Karin dan Teh Fitri langsung menaruh barang-barang mereka. Dengan sigap mereka langsung melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda. Kedua Teteh tersebut terliat hectic dan rada riweuh soalnya jarum pendek jam udah menunjuk angka tiga dan beberapa kerjaan masih belum selesai.

Kami bertiga lalu tenggelam dalam kesibukan masing-masing, hingga jam menunjukkan pukul 5 teng.

Semua pekerjaan disave.

Lalu kami bersiap pulang ke rumah masing-masing.

 


 

PKL Day 16-20—Lagi-lagi Sekretariat.

[Senin, 24 Juli 2017]

Yaakkk another week in sekretariat. Bedanya kalau minggu lalu mah ngegantiin Teh Ririn, minggu ini ngegantiin Teh Karin. Untung minggu lalu udah diajarin dengan detail sama Teh Karin, jadi begitu jam setengah 8 pagi, bisa langsung kerja.

Surat masuk hari ini lumayan banyak, jadi sibuk deh. (sok iye bat lu Ken)

 

Jangan sok iye deh

 

Sampai jam 3 sore pun masih ada Surat Masuk. Dengan terburu-buru saya input ke excel, SIDJP dan Masuper, soalnya masukin surat dan lembar disposisi ke ruangan Pak Kakap-nya biar nggak terlalu sore, biar bisa didistribusiin ke seksi-seksi lain sebelum jam kerja hari ini berakhir.

Daaan taunya masalah input-inputan ini baru kelar jam 16.40. Gilee 20 menit sebelum bubaran kantor!! Buru-buru lah saya mencetak lembar tanda terimanya terus berjalan tergopoh-gopoh nganterin seluruh Surat Masuk ke semua seksi.

Udah tau injury time, eeehhh taunya pas di ruangan waskon II-IV, malah diajak ngobrol panjang sama bapak-bapak di ruangan waskon II. Kalau nggak salah namanya Pak Anton.

“Permisi Pak, ini dari sekre…”, Kata saya dengan ekspresi yang entah gimana lah bentuknya.

“Oh dari sekre??”, Jawab Pak Anton sambil nerima Surat Masuk dan nandatanganin lembar tanda terima.

“Iya, Pak”

“Kamu namanya siapa??”

“Kenny, Pak”

“Oooohh yang tadi siang ke sini juga ya?”

“Iya Pak betul”

“Kamu yang baru penempatan di sini apa anak PKL?”

“Anak PKL, Pak. Hehe”

“Ooohhhh anak PKL. Asal dari mana?”

“Bandung, Pak”

“Bandungnya di mana?”

“Di Kopo”

“Wah jauh dong??? Kamu tiap hari naik apa ke sini?”

“Naik bus, Pak. Dari Leuwipanjang”

“Wah capek dong?”

“Biasa aja sih Pak hehe da udah kebiasaan dari zaman sekolah”

“Dulu SMA di mana emang??”

Buseeeettt saya berasa artis yang lagi diwawancara infotainment. Segala ditanya. Emang Pak Anton ini Account Representative sih ya jadi udah biasa tanya jawab sama WP. Mantap Pak:)

Di tengah obrolan dengan Pak Anton, tiba-tiba nongol Aa Rizal yang udah diceritain di part sebelumnya. Beliau pegawai waskon III, jadi seruangan sama Pak Anton cuma kepisah sama sekat aja. Aa Rizal ikut nimbrung ngobrol dan nanya-nanya saya.

Sampai akhirnya saya keluar dari ruangan waskon II-IV jam lima lebih beberapa menit. Dan masih ada surat yang perlu didistribusiin ke tiga seksi lain!!! Langsung saya ngibrit ke tiga ruangan lain. Untung di tiga ruangan itu masih ada orang jadi masih bisa lah suratnya diterima, walau pegawai di ruangan-ruangan itu udah mencak-mencak karena udah pada siap-siap mau pulang.

Jam 5.15, saya kembali ke sekre, beres-beres, menuju mesin presensi, terus pulang deh. Alhamdulillah kelar juga kerjaan hari itu. Yay!

 

[Selasa, 25 Juli 2017]

Masih berjibaku dengan surat-Surat Masuk dan SPT Masa, bedanya cuma jumlah suratnya aja yang nggak seheboh hari Senin.

Dan lebih banyak gabutnya, soalnya Pak Kakap ngisi acara seminar pajak di BEC. Jadi hari itu saya nggak ngedistribusiin Surat Masuk karena harus nunggu Pak Kakap pulang dulu dari BEC. Hari itu beliau baru balik ke kantor sekitar jam 3 an. Habis itu beliau langsung kedatangan tamu, sehingga Surat Masuknya belum didisposisiin ke Pak Kakap. Barulah sekitar jam 4 Pak Kakap free dan surat-Surat Masuk itu kemudian dimasukkan ke ruangannya untuk ditinjau dan diberi rekomendasi.

Sampai jam-jam mau pulang, surat-Surat Masuk itu belum Pak Kakap keluarkan dari ruangannya. Itu berarti, distribusi Surat Masuk baru bisa dilakukan besoknya. Yah gabut sampe pulang deh.

Sambil menunggu jam pulang, Teh Fitri dan Teh Ririn ngobrol tentang zaman-zaman dulu mereka pacaran. Saya mendengarkan sambil sesekali tersenyum, soalnya cerita mereka lucu-lucu gemas gitu.

Eh tiba-tiba, Teh Fitri melontarkan pertanyaan ke saya.

“Kalo Kenny pacarannya gimana???”

Buset. Tau gak sih perasaan seorang jomblo-dua-dekade ketika ditanya begitu?? Makjleb coy.

`

[Rabu-Jumat, 26-28 Juli 2017]

Dua kata yang mendeskripsikan keadaan saya dalam tiga hari itu. Gabut parah.

Jadi ceritanya Pak Kakap cuti tiga hari, otomatis sekre jadi sepi dari orang-orang yang mau minta tanda tangan Pak Kakap. Pengganti tugas kepala kantor atau yang biasa disebut Plh (pelaksana harian) adalah Pak Ifan, Kasubbag Umum. Jadi orang-orang yang mau minta tanda tangan larinya ke ruangan subbag umum semua.

Sekre pun nggak seramai biasa.

Orang-orang dateng ke sekre cuma buat minta cap, nomerin surat, nyemilin snack yang ada di sekre, sama ngegosip.

Dan entah kenapa Surat Masuk yang dateng pun cuma seuprit.

Untuk SPT Masa, berubung udah jauh dari tanggal 20, udah nggak ada SPT Masa Juni yang dateng lewat pos lagi. Jobdesc saya berkurang satu.

Urutan kegiatan pun berubah. Biasanya dari pagi saya nge-input Surat Masuk dan nyetak disposisi. Pas sore baru ngedistribusiin Surat Masuk ke seksi-seksi yang berkepentingan. Sekarang dibalik. Pagi-pagi saya ngedistribusiin Surat Masuk hari kemarinnya, pas siang sampe sore saya baru nge-input Surat Masuk. Gitu aja selama tiga hari.

Nggak menarik banget buat diceritain huhuhuhuhu:(

 

[Plus minus di Sekretariat]

Sebagus-bagusnya suatu hal, pasti ada kurangnya. Begitu juga sebaliknya.

Hal positif di sekre:

Pertama, jumlah makanan yang di atas normal. Sekre kayaknya nggak pernah kehabisan snack (terkadang makanan berat juga) buat nemenin pegawai-pegawai yang lagi nggak terlalu sibuk terus pingin nongki-nongki  manja di sekre. Snack –snack tersebut berasal dari mana-mana. Bisa dari oleh-oleh pegawai yang baru pulang dari kampung, sisa makanan rapat kepala kantor, hasil jamahan dari seksi lain, dan lain sebagainya.

Selama saya di sekre, hampir tiap hari saya bawa oleh-oleh ke rumah. Dari mana lagi oleh-oleh tersebut kalau bukan dari sekre.

“Ken, ini ada pisang ijo dari subbag umum. Bawa pulang ke rumah yaa”, pada suatu hari.

“Ken ini ada snack box dari seksi eksten, entar jangan lupa bawa yah”, besoknya.

“Neng ini ada pepes ikan, katanya buat orang sekre”, besoknya lagi.

“Neng mau kupat tahu nggak? Ini Pak Kakap nawarin buat sekre”, di hari yang sama kayak pas ditawarin pepes ikan.

“Nih ada ayam penyet surabaya. Lumayan nih buat makan siang”, pas minggu kedua saya di sekre.

“Nih neng, kalo mau nyemil. Ada yang beli pizza terus kita dikasih 3 slices”, masih pas minggu kedua saya di sekre.

“Abdi tadi pas ngagaleuh sarapan ningal aya tukang cakue. Tah Neng lamun hoyong mah candak we nya di luhur meja”, pas hari terakhir di sekre.

Daaaan masih banyak tawaran makanan lainnya yang saya nggak inget detail saking seringnya. Untung cuma dua minggu di sekre. Kalau dua tahun, gile, mau naik berapa kilo dah???

 

Kedua, pekerjaan yang beragam dan dinamis. Nggak kayak di PDI yang kerjanya nggak jauh-jauh dari ngedata berkas. Kalau di sekre, udah diceritain panjang lebar di part sebelumnya bahwa jobdesc di sekre lumayan beragam, mulai dari input ke komputer sampai nge-scan dokumen. Selain itu, nggak kayak di PDI yang kerjaannya menuntut buat fokus diem sambil duduk manis berjam-jam. Kalau di sekre, berhubung salah satu jobdescnya adalah nganter-nganter disposisi Surat Masuk, pastinya saya sering jalan-jalan ke semua seksi. Selain membuat badan nggak kaku dan pantat nggak pegel, mata pun ikut seger karena bisa liat-liat pegawai seksi lain. He.

Ketiga, ilmu persuratan. Sekarang saya jadi sedikit lebih ngerti alur Surat Masuk dan surat keluar. Saya juga jadi sedikit bisa ngebedain tujuan surat: mana yang harus didisposisiin ke penagihan, mana yang harus ke pelayanan, dan mana yang harus ke seksi lainnya. Paralel dengan hal tersebut, ada beberapa surat yang harus didisposisiin ke waskon II-IV. Biar bisa ngarahin surat ke waskon yang tepat, saya harus tau AR di masing-masing waskon. Jadi, secara nggak langsung hal tersebut membuat saya hapal beberapa nama AR dan waskon berapanya. “Ah WP ini AR-nya si bapak XXX, berarti surat ini harus ditujukan ke waskon X” gitu lah kira-kira.

Keempat, jadi tau banyak pegawai dan tau banyak kabar. Banyak pegawai yang menjadikan sekre sebagai tempat menggabut dan menggosip. Selain karena banyak makanan, banyak yang suka ngegosip ke sekre karena teteh-teteh sekre-nya ngobrol-able sekali. Saya tau berita tentang bunuh diri di apartemen Gateway dan Rihanna pacaran sama raja arab juga dari obrolan sekre. Terimakasih sekre.

 

Sedangkan hal negatif di sekre adalah:

Pertama, nambah dosa ghibah. Saya nggak ikut ngegosipin orang, tapi berhubung orang-orang banyak yang suka ngegosip di sekre, otomatis saya pun ikut ngedenger obrolan mereka. Yah ikut dosa deh.

Kedua, banyak waktu luang yang nggak produktif. Nggak kayak waktu di PDI yang habis ngedata satu bundel amplop terus dateng lagi bundel amplop yang selanjutnya which is kerjaannya sangat never ending. Di sekre, terutama pas ngurusin Surat Masuk, banyak waktu gabutnya. Terutama pas pagi hari ketika belum ada Surat Masuk yang dateng. Bapak pos biasanya paling pagi dateng jam 10, jadi ya baru kerja efektif mulai jam segituan.

Lah terus dari jam setengah 8 sampe jam 10 ngapain aja???

Main solitaire:)

Berfaedah sekali bukaaaannnn????

 

Melihat hal positifnya labih banyak dari hal negatifnya, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan di sekre sangatlah worth it. Terima kasih kepada Pak Kakap, yang sudah mempercayai saya selaku bocah PKL ingusan buat stay di sekre selama dua minggu. Semua hal persekretariatan ini akan saya kenang dalam sanubari terdalam saya. Terima kasih juga buat semua teteh sekre atas segala ilmu dan kesabarannya dalam menangani anak ceroboh yang satu ini. Semoga kebaikan teteh-teteh semua dirahmati Allah SWT. Aamiin.

 

Lanjut di:

Part 5 – Hari-Hari Terakhir

Part 6 – Kemesraan Ini, Janganlah Cepat Berlalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s