Drama Angkot Soreang

Sekitar pukul 13.10 saya pulang dari sekolah. Perjalanan dari sekolah menuju rumah sangatlah rame dan amazing datar dan tidak mengasyikkan, seperti biasa.

Tetapi semua berubah ketika negara api menyerang. Oke, cukup intermezzonya. Tapi serius, semua berubah begitu cepat.

Tibalah saya di Jalan Terusan Kopo kira-kira pukul 13.05. Ada seorang bapak berperawakan sedang dan berambut acak-acakan. Dia mengenakan jaket yang bertuliskan SMA 3. Entah itu SMA 3 Bandung atau Jakarta atau Cililin atau Bojongsoang. IDGAF.

Begitu ia memasuki angkot jurusan Soreang-Bandung yang saya tumpangi, ia langsung menyandarkan kepalanya kepada salah seorang penumpang perempuan yang berusia kurang lebih dua tahun lebih muda dari saya. Sebut saja ia Ani. Awalnya saya mengira si bapak-berjaket-SMA-3 itu kenal dengan si Ani makannya ia dengan enaknya nyender-nyender. Tapi dugaan itu salah. Ani malah langsung ilfil sama si bapak itu dan meminta tolong kepada saya yang kebetulan duduk di depan Ani agar bergeser sedikit, agar Ani tidak duduk bersebelahan dengan si bapak itu lagi.

Tanpa menunggu persetujuan saya, dengan cepat Ani langsung berpindah tempat duduk. Namun Si Bapak ternyata belum selesai berulah. Ia mengajak Ani berkenalan. Sontak saja ia ketakutan dan mengajak saya untuk turun. Untuk menemani dia, bisi diikutin cenah. Saya yang merasa kasihan dan takut, mau bagaimana lagi, ya ikut turun.

Dan, tak disangka, si bapak itu juga ikut turun! And I was all like, “ANJRIT URANG KUDU KUMAHA YEUH.”

Saya dan Ani langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Si Bapak. Sopir angkot yang mengerti situasi dan kondisi yang terjadi langsung tancap gas dan mengejar kami.

“Hayu neng naek deui! Enggal!”

Kami yang sedang lieur-teu-puguh pun langsung mengikuti instruksi sopir. Dengan tergesa-gesa kami naik angkot itu lagi. Si Bapak yang baru sadar kami tinggalkan langsung mengejar angkot yang kami tumpangi. Semua penumpang yang melihat drama action tersebut kompak berteriak “Ayo mang gancang!!!”

Si sopir dengan santainya membalas “Ah tenang weh bu”.

Omongan si sopir ternyata bukan hoax belaka. Si bapak-berjaket-SMA-3 tadi rupanya sudah kelelahan mengejar kami. Akhirnya, semuanya pun tenang dan semua pulang ke tujuan masing-masing. Yay!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s