Reka Ulang

Delapan hari pasca hari ulang tahun ke enam belas. Tapi euforianya masih membekas, dan terpampang jelas.

Cerita-in ulang ah, terutama pas bagian surprise.

Hari itu, 8 Februari 2013, saya harus mengikuti latrut (latihan rutin) teater yang biasa dilakukan selepas solat jumat. Saya melewati kegiatan-kegiatan latrut dengan lempengnya, mulai dari mood, semangat, sampai muka.

Nah itu dia awal masalahnya. Muka.

Saya terlahir dengan muka lempeng, absurd, dan tidak jelas. Muka yang absurd dan tidak jelas memang dibutuhkan oleh seorang anggota teater. Tapi lempeng? Uh..

Jadi waktu itu saya disuruh bereksepresi layaknya makhluk galau yang habis diputusin pacarnya. Ini tidak semudah nyanyi lagu Noah ataupun Kangen Band, karena saya belum pernah galau, belum pernah pacaran, dan belum pernah diputusin.

Pelatih teater saya, sebut saja dia Anu, kayaknya greget liat beungeut lempeng tersebut. Dia malah sampai turun tangan mempraktekan sendiri caranya membejek-bejek muka dan mencentil-centilkan gestur biar menarik perhatian.

Kegiatan terus berlanjut. Masih dengan muka-yang-gitu-gitu-aja-tapi-berusaha-agar-tidak-lempeng tentu saja. Sampai ketika akhir latrut tiba..

Ada semacam evaluasi pasca latrut edisi 8 Februari. Yang jelek dan tidak maksimal, dikritik habis-habisan oleh si Anu. Terutama pas dia menyebut nama saya. Tetap dengan gayanya, ngomong pake ‘elu-gua’.

“…terus, orang yang harus belajar lagi itu elu, Ken. Oke lah lu menang kalau urusan ekspresi lempeng dan cengo. Tapi giliran disuruh ekspresi yang lain, elu ga bisa. Sayang banget. Padahal dulu lu pernah jadi andalan gua gara-gara ekspresi lempeng lu. Sayang banget.”

Saya yang bermental seperti kripik Riki alias gampang remuk dan menjadi serpihan-serpihan nggak jelas yang membuat mules (naon?), berpikiran mau nangis habis dikritik seperti itu. Hampir ya. Nggak nangis.

Daaaaaaaan. Jeng-jreng! Datanglah dua teman saya dari arah luar ruangan sambil membawa tumpukan wafer Tango yang diberi lilin di atasnya. Ya, kue wafer ulang tahun!

Dan semua manusia gelo di ruangan itu (kecuali si Anu) serentak menyanyikan lagu happy birthday. Saya pun kaget. Sangat kaget. Untung gak ada yang mengabadikan muka saya dan menguploadnya ke Instagram. Untung. Habisnya jelek banget muka saya waktu itu.

Tumpahlah air mata yang sudah lama tidak saya alirkan. Nangis. Bukan karena kritikan pedas kayak keripik Riki yang dilontarkan si Anu. Tapi karena kaget. Dan senang. Dan nggak nyangka. Hah.

————————————————————————

Saya jadi ingat satu quote dari salah satu guru yang sangat saya amini; “Menangis adalah puncak dari segala emosi.”. Benar juga. You know me so well, dah.

————————————————————-

image

image

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s