Notes 25/01/13

Notes kemarin yang belum saya post.

—————————————————————-

Gila. Hari ini sungguh gila. Juga asik. Juga amazing. Juga penuh liku dan rintangan yang terpampang nyata di depan mata.

– Dimulai dengan perjalanan pergi ke sekolah tadi pagi. Saya sudah pergi pagi sekali; pukul 05.25. Biasanya, pukul segitu sudah ada mang-mang becak yang standby di tongkrongannya. Tapi, tadi pagi semua mang-mang becak yang biasanya nongkrong hilang ditelan badai bulu mata Syahrini. Sehingga saya pun harus berjalan kaki ke depan kompleks. Bayangkan berapa banyak kalori yang sudah saya bakar? Bayangkan!

– Di sekolah. Ceritanya, saya tuh sedang asyik mengerjakan soal ulangan Kimia (bari jeung lieur ge kerjakeun weh). Tiba-tiba datanglah sesosok manusia berwajah mirip Ibnu Jamil yang tidak lain dan tidak bukan ialah wakasek bidang kurikulum. Beliau memanggil beberapa nama siswa dan siswi untuk datang ke sebuah ajang penelitian salah seorang profesor. Ternyata oh ternyata, salah satu nama yang dipanggil adalah nama saya. Jadi, Sabtu besok saya HARUS DATANG KE SEKOLAH MENGGUNAKAN SERAGAM. HOW GREAT.

– Ekskul teater. Sepertinya, saya merupakan satu dari sekelumit anak-anak yang susaaaaaaaaaaaaaah sekali untuk diajari. Nggak deng. Kayaknya cuma saya saja. Sampai-sampai, pelatih teater saya mangap-mangap kayak simpanse yang terancam punah untuk mengajari saya lipsync. Akhirnya saya berhasil, walaupun kata seseorang, saya itu kayak mau makan si pelatih teater tadi saking lebar dan buasnya saya megap-megap.
Tapi, setelah itu saya dipuji-puji setelah me-lipsync-kan salah satu adegan di Malam Minggu Miko. Menurutnya, saya itu berbakat. Berbakat mengikuti ekspresinya Raditya Dika. Tahu ekspresinya Raditya Dika, kan? Yang cuma lempeng sambil sedikit cengangas-cengenges itu loh.

– Traktiran. Salah seorang teman saya datang di saat yang tepat. Dan menawarkan tawaran yang lebih tepat.
“Ken, mau aku traktir?”
Bukan traktiran ecek-ecek yang dia tawarkan, tapi tawaran makan di Mekdi!

– Hipnotis. Setelah puas makan-makan gratis, saya langsung menunggu bus Damri yang biasa lewat depan BIP. Saya mengamini kata-kata band Zivilia yang satu ini, “Menunggu, sesuatu yang tak mengenakkan bagiku”. Sekitar setengah jam saya habiskan untuk menunggu kedatangan si bus. Bukannya si bus, yang datang menghampiri ternyata seorang teteh-teteh berusia sekitar 25 tahun yang ingin meminjam HP saya untuk numpang SMS. Saya yang menaruh curiga, berbohong dan bilang kalau saya tak punya pulsa. Teteh-teteh itu tidak habis akal. Dia bilang ingin pinjam HP saya saja, tanpa SIM card. SIM card nya dari dia. Berhubung saya orangnya “nggak enakan” (tapi boong), dengan berat hati saya pinjamkan, sambil baca-baca beberapa ayat Al-Quran yang saya hapal agar tidak dihipnotis.

Ternyata memang si teteh ini tidak berniat menghipnotis saya. Malah, memberi saya imbalan berupa duit sepuluh rebu rupiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s