Pujangga + sejati = pujangga sejati?

Kalau orang indonesia pergi ke amerika atau negara lainnya kemungkinan besar mereka akan mengalami culture shock. Kalau yang sekarang sedang saya alami, ini semacam mini culture shock. Bukan mini lagi sih, ini culture shock banget. Jangan bayangkan saya sekarang sedang di amerika atau di australia ataupun di zimbabwe. Saya masih di indonesia kok. Culture shock yang ini disebabkan karena saya telah naik kelas! Tidak mengerti ya? Ini, saya berikan contoh kasusnya agar anda mengerti.

Kelas 10: kalau tidak ada guru, pemandangan yang terlihat adalah pemandangan orang sedang membaca novel, menggosip, ngaca di wc, jajan ke kopgur, menyetel lagu keras-keras sampai terdengar ke koridor, dsb.

Kelas 11: kalau tidak ada guru, pemandangan yang terlihat adalah pemandangan orang gadag, orang yang mengerjakan tugas gamtek, tidur, gadag, mengerjakan pr selain gamtek, gadag, dsb.

Sudah mengerti duduk perkaranya? Nah, itu yang saya akan bahas dalam curhatan ini.

Kontras. Sangat kontras. Orang-orang, kebiasaan, tingkah laku, selera humor, kesamaan hobi, bahan obrolan, bahan candaan, dan lain sebagainya sangat kontras. Saya masih belum bisa menerima keadaan kelas saya yang sekarang. Belum terbiasa, bisa jadi. Tapi sampai kapan ketidakterbiasaan ini akan terus menggerayangi kehidupan saya sebagai anak-kelas-11-yang-kalau-di-sinetron-terlihat-menyenangkan-dan-tanpa-masalah-kecuali-masalah-rebutan-pacar-dan-konflik-antar-geng-yang-kenyataannya-tidak-ada-dalam-kamus-hidup-saya?

Beralih dari comfort zone yang menyenangkan dan jarang sekali ada orang rajinnya menuju kehidupan keras yang penuh batu-batu terjal dan dipenuhi orang-rajin-tapi-gadag menurut saya cukup sulit. Beradaptasi lagi. Mencari satu titik kesatuan visi dan misi antara penghuni kelas lagi. Jadi orang gadag lagi….

Sip.

Perubahan. Belum cukup mental saya untuk menghadapinya. Sulit, namun harus dicoba. Tidak nikmat, namun harus dinikmati.

Asek.

Ehm. Sudah malam nih. Ngeluhnya dilanjut esok hari saja. Saya mau bobo dulu. Doakan saya ya. Agar bisa sabar seperti Haji Sulam si tukang bubur. Apa atuh euy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s